Ijazah & Mengamalkan Sholawat Nariyah

Alhamdulillah atas nikmat yang diberikan Allah SWT, dan atas momentum dalam perjalanan hidup yang dalem lalui, cerita yang mengharukan sekaligus emban amanat yang harus dilaksanakan, terlebih menebar kebaikan tujuannya mencari manfaatnya ilmu dan mengharap berkah.

Masih teringat dalam benak ini, ketika dalem masih berstatus mondok (bertempat tinggal di asrama) ditempat itulah dalem mendapatkan anugerah yang tidak ternilai—sebuah Ijazah amalan dari seorang alimah yang penuh kasih atas semua santri, tak lekang dalam kesehariannya untuk tidak medoakan santri, seseorang yang santun nan wibawa, Simbah Nyai Chalimah Chudlori, pengasuh Pondok Pesantren A.P.I Tegalrejo Magelang.

Beliau meng-ijazahkan kepada dalem untuk mengamalkan Sholawat Nariyah, untuk dibaca 11 kali setelah melaksanakan sholat dhuha, dan ketika nanti sudah dirumah, alias sudah tidak di pondok , amalan Sholawat Nariyah dibaca sebanyak 4.444 kali, sebuah amalan yang mungkin terlihat sederhana, akan tetapi sarat makna, yang dimana amalan tersebut penuh rahasia kebaikan, mengandung keberkahan bagi siapa saja yang mengamalkannya dengan istiqomah.

Jumat pagi setelah menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah lalu, untuk mengisi waktu sebentar, dilanjutkan wirid mujahadah fajar, dan free ngiras (makan dan minum ditempat warung masyarakat setempat), karena memang pada hari tersebut, semua KBM (kegiatan belajar mengaji) libur, santri diperbolehkan untuk ngiras ketika hanya dihari Jumat, dihari-hari yang lain tentunya tidak diperbolehkan, namun diperbolehkan membeli sayur, akan tetapi tidak boleh dimakan ditempat, wajib dibawa ke-kamar, alasannya tentu saja untuk menjaga wira’i.

Saat itu semua kegiatan santri tentu saja ber macam-macam ada yang tidur, lalu membuat almari, juga mencuci baju, ada juga yang sedang nembel makna kitab, dan lain sebagainya.

Hari itu dalem dan mustofa sepakat untuk sowan ke ndalemnya simbah nyai,  atas niat tujuan yang besar mencari ridho guru, berharap mendapatkan nasihat dan arahan dari beliau, tentunya dengan langkah yang penuh adab dan hati yang berdebar.

Ndalem simbah nyai masih satu komplek dengan asrama pusat, tidak begitu jauh untuk melangkahkan kaki ke ndalem, sesampainya didepan pintu ndalem, kami menunggu dengan penuh harap dan tidak berani untuk langsung masuk begitu saja walaupun pintu terbuka, karena didalam masih ada beberapa santri, yang niat dan tujuannya sama.

Tidak selang lama, kami dipersilahkan untuk masuk ke ndalem. MasyaAllah sebuah kesempatan yang langka—kami bisa bermuajahah langsung dengan Simbah Nyai, wajah beliau tampak teduh, penuh ketenangan dan memancarkan wibawa yang membuat hati ini luluh.

Terus terang kami tertunduk, sepatah kata dua patah kata terucap dari bibir ini, takut jika nanti salah ucap, yang tadinya kami mengira-ngira suasana akan canggung, namun Simbah Nyai memecahkan suasana, mengajak kami berbincang-bincang menanyakan kamar kami, dan asal daerah kami, serta merta berusaha menyerap apa yang disampaikan Simbah Nyai, perbincangan kami pada waktu itu tidak terlalu lama namun terasa begitu dalam,  setiap nasihat yang keluar dari lisan beliau, laksana embun es menyejukkan, menenangkan pikiran, dan memberi arah bagi langkah kedepan.

Dialog yang betul kami ingat

“Ada apa kang..?” (simbah nyai)

Dalem sowan kesini karena kepentok keadaan” (saya)

“Keadaan yang bagaimana, yang membuatmu sulit” (simbah nyai) “Orang tua saya memiliki hutang piuatang yang sedikit agak banyak” (saya) “Enggeh tho kang, Kamu ngamal nariyah 11 kali di maqam simbah ba’da dhuha 4 rokaat dua salam setelah itu doa hajate, kamu kalau ngamal nariyah 4.444 sekarang kepentok jadwal ngaji kang, besok kalau sudah dirumah ya 4.444” (simbah nyai)

“Nggeh, dalem insya Allah laksanakan” (saya)

Momentum itu menjadi bukti bahwasanya berkah itu nyata, bukan hanya dari ijazah amalan yang diberikan, namun dari pertemuan itu sendiri—tatapan, nasihat yang diutarakan, dan doa yang tak terucap namun masuk ke relung hati.

Kenangan indah ini akan selalu dalem simpan dalam hati, bukan hanya sebagai narasi cerita saja, namun sebagai perantara antara murid dan guru, dalem jadikan pondasi sebelum melangkah, terlebih sebagai pengingat hidup, sumber semangat untuk terus mencoba istiqomah saat beramal.

Lalu apa manfaat Sholawat Nariyah..?

Sejauh yang saya ketahui dan sering saya dengar dari para masayikh, Sholawat Nariyah ini mustajab, namun tidak pernah secara terus terang ketika kamu ngamal ini akan menjadi begini, hanya saja secara eksplisit dikatakan bahwasanya Sholawat Nariyah ini akan meringankan masalah yang sulit, akan dipermudah, dihindarkan dari marabahaya, tentu saja Sholawat Nariyah ini hanya sebagai lantaran, segala sesuatu yang ada di dunia ini kehendak Allah SWT.

Hanya saja dalem mencoba rangkum kan

  1. Mengabulkan Hajat yang besar & dimudahkan urusannya, dengan catatan dibaca satu majelis sebanyak 4.444 x
  2. Melancarkan rezeki, dijadikannya wirid harian (misalnya dibaca 11 x setelah sholat maktubah, banyak yang meyakini akan dimudahkan dalam mencari rezeki.
  3. Sebagai benteng dari musibah, dibaca 21 x setelah sholat subuh & maghrib dipercaya melindungi diri sendiri dari marabahaya dan apes ketika dimana saja.

Lalu bagaimana cara mengamalkannya :

  1. Hajat yang besar : dibaca 4.444 x dalam satu kali majelis, jika tidak ingin terlalu lama menghabiskan waktu, dibaca secara jamaah, yaitu dengan menyiapkan hitungan sejumlah 4.444 entah itu kerikil (batu kecil) dlsbngya.
  2. Untuk harian : dibaca setelah sholat sunah duha dan shoalt fardhu sebanyak 11 x, diutamakan dibaca ketika sholat subuh dan maghrib.

Bagaimana syair Sholawat Nariyah

Sholawat Nariyah
Syair Sholawat Nariyah

Allâhumma shalli shalâtan kâmilatan wa sallim salâman tâmman alâ sayyidinâ Muhammadinil-ladzi tanhallu bihil-uqadu wa tanfariju bihil-kurabu wa tuqdlâ bihil-hawâiju wa tunâlu bihir-raghâ’ibu wa husnul-khawâtimi wa yustasqal- ghamâmu biwajhihil-karîmi wa ‘alâ âlihi wa shahbihi fî kulli lamhatin wa nafasin bi adadi kulli ma lûmilak(a).

Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Baginda Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujan pun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarga serta para sahabatnya, di setiap detik dan embusan napas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh-Mu.

Semoga bermanfaat dan semoga menjadi amalan Nariyah ini menjadi jalan kita semua untuk mencari Ridho Allah SWT.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *