
Cerita yang begitu dikenang oleh Hairus Salim HS, aktivis NU; pendiri Yayasan LKiS, diungkapkan ketika waktu itu Gus Dur sedang menghadiri Konferensi Agama-Agama (KAA) sebagai pembicara yang digelar di PGI Salatiga.
Pada saat itu Bpk. Hairus Salim sedang luang, kebetulan juga Gus Dur pada waktu itu sekaligus menyambangi ning Alissa yang berkuliah di Fakultas UGM sedang KKN di magelang, Gus Dur meminta secara langsung teman-teman asal Yogyakarta untuk menemaninya.
Seperti biasa ketika didalam mobil Gus Dur mengajak berbincang tentang situasi politik pada saat itu membedah buku dan dunia intelektual, apalagi dengan karakter Gus Dur yang memiliki selera humor yang segar, terkadang Gus Dur tiba-tiba tertidur lalu sedikit mendengkur dan tiba-tiba terbangun untuk melanjutkan perbincangan.
Lalu bertanya kepada Bpk. Hairus Salim, di kalimantan siapa sosok ulama yang sangat dihormati saat ini.? Bpk. Hairus Salim menjawab, “Tuan Guru H. Zaini Ghani”, dan mulai menceritakan bagaimana latar belakang Tuan Guru H. Zaini, dari majelis yang diasuh hingga ribuan masyarakat dan santri dikawasan kampung yang bernama “Sekumpul”, yang senantiasa menimba ilmu kepada Tuan Guru H. Zaini, jelas sudah kredibilitas seorang tokoh ketika, nama kampung sudah di nisbahkan kepada guru tersebut pasti ketokohannya tidak perlu dipertanyakan lagi.
Pada saat itu sekitar tahun 1994, ketika langit politik kepemimpinan Presiden Sohearto sedang kemarau, protes dan ketidakpuasan masyarakat menjadi polemik yang menjamur dimana-mana, iklim panas juga dirasakan oleh ormas-ormas agama khususnya NU, merambah ke kalangan pesantren, apalagi Gus Dur waktu itu ketua PBNU, mau tidak mau menjadi tempat untuk mendengar segala aspirasi dari masyarakat, santri dan kyai.
Pada masa orde baru, yang dimana Pak Harto menjabat sebagai presiden, tidak semua lapisan masyarakat berani untuk berbicara, atau bahkan menyampaikan aspirasi secara terbuka, kala itu memang Pak Harto dikabarkan sangat marah kepada Gus Dur, dikarenakan Pak Harto tidak ingin Gus Dur menjadi ketua Umum PBNU, beberapa kali Gus Dur mengajukan sowan untuk melaporkan pelaksanaan muktamar, dan ngaturi Pak Harto untuk membuka muktamar, namun selalu di tolak.
Banyak cara Pak Harto untuk menjegal Gus Dur mulai dari aparatur negara, hingga mengerahkan militer, tujuannya agar tidak menjadi ketua umum, karena atas dasar ketidak inginan pemerintah adanya figur berpengaruh duduk di organisasi masyarakat, ketika Pak Harto memukul gong sebagai tanda dibukannya muktamar, sama sekali Pak Harto tidak menyapa Gus Dur, bahasa jawanya “dinengke wae”
Ini menjadi bukti sejarah Muktamar NU terpanas selama ini, didukung oleh keadaan politik kala itu, alurnya begitu dramatis selisih suara dengan oposisi pesaing lainnya hanya tiga suara, yaitu hasan syadzili, yang namanya memang kurang dikenal.
Ketika Muktamar NU tahun 1994, Dr. Humaidi Abdussami sebagai dosen UIN Banjarmasin, senior Bpk. Hairus Salim pada kala itu saling bertemu, mereka sebagai peserta Muktamar dari kalimantan selatan, yang dimana Dr. Humaidi menceritakan bahwasannya Guru Sekumpul ingin datang ke muktamar, namun apa daya Guru Sekumpul sedang sakit, sehingga mengurungkan untuk datang di Muktamar.
Diungkapkan oleh Bpk. Hairus Salim, ketika Gus Dur bertanya kepada saya beberapa bulan sebelum muktamar ketika berada dimobil, bertanya tentang ulama yang memiliki pengaruh besar di kalimantan selatan, Gus Dur memang belum tahu atau memang hanya menguji Bpk. Hairus Salim, ini hanya sebagai konfirmasi atas obrolan Bpk. Hairus Salim dengan Gus Dur, memang kebetulan Guru Sekumpul akan datang, namun berhalangan.
Tidak datangnnya Guru Sekumpul dalam kepengurusan, namun Guru Sekumpul yang memiliki nama lengkap KH. Zaini Abdul Ghoni menjadi salah satu mustasyar PBNU periode tahun 1994-1999, sedang jika diartikan mustaysyar adalah dewan penasehat, jajaran tertinggi dalam suatu struktur kepengurusan, tidak ada tugas organisasi, namun sebagai simbol organisasi ini dan sebagai garda pengawal, organisasi Nahdlatul Ulama.
Mengingat pada waktu itu, ada NU tandingan yang dibuat oleh Abu Hasan, terjadilah konflik dengan NU Gus Dur, namun kalimantan selatan ternyata mendukung kubu NU tandingan yang diprakarsai oleh Abu Hasan, tapi penentangan ini tidak terlalu meledak-ledak, pasalnya Guru Sekumpul menjadi Mustasyar PBNU, memang Guru Sekumpul tidak terlalu ikut campur dalam konflik ini.
Bukan berarti konflik dalam NU ini berkelanjutan, pandangan politik dan persaudaraan jelas hal berbeda, sebelum keduanya berpulang ke Rahmatullah, sudah islah saling memaafkan.
Menurut pandangan Bpk. Hairus Salim, bukan berarti harus menjadi anggota dalam struktur kepengurusan atau harus memiliki KTA (kartu tanda anggota), demikian pula dengan Guru Sekumpul, beliau memang tidak terlalu berperan aktif dalam ber organisasi, namun pemahaman dan keilmuan beliau sudah jelas NU sejati.
Partai Kebangkitan Bangsa dan Kampanye Gus Dur
Dipenghujung tahun 1998 – 1999, hawa panas dan gejolak begitu sangat dirasakan dikalangan masyarakat, demonstrasi terjadi dimana-mana, pada saat itu Pak Harto dimakzulkan dari jabatan presiden, tidak disangka KH. Abdurrahman Wachid (Gus Dur) menjadi presiden republik indonesia, melewati kemelut politik yang sangat rumit.
Ketika Gus Dur sudah menjabat sebagai Presiden, beliau sering bersilaturahim kemana saja, tentu saja Ulama menjadi daftar kunjungan Gus Dur, sejarah mencatat pada tahun 2000 Gus Dur berkunjung ke kalimantan selatan untuk silaturahim ke Guru Sekumpul untuk pertama kalinnya, lalu melanjutkan ziarah ke makam Maulana Syeikh Arsyad Al-Banjari Guru Kelampaian.
Bertemunya Presiden Gus Dur & Guru Sekumpul menjadi sorotan yang luas pasalnya ini pertama kalinya kedua insan saling bertemu, dan menjadi kunjungan presiden di kalimantan selatan, Gus Dur tahu betul jika Guru Sekumpul merokok, dan membawakan rokok dengan merek istana presiden, menurut kisah yang diceritakan Guru Sekumpul sangat senang dan berterimakasih, Gus Dur dan Guru Sekumpul bertemu seperti sahabat karib yang sudah lama tidak bertemu, canda tawa, humor-humor segar, keakaraban menjadi pertanyaan besar, padahal beliau-beliau ini baru kali ini bertemu.
Setelah reformasi Gus Dur mulai terjun ke dunia politik, yaitu membangun Partai Kebangkitan Bangsa, hal ini menjadikan partai-partai lama menjadi tidak senang, sudah jelas akan menggerus pendukung partai besar, terutama PPP yang notabennya berada di daerah kalimantan selatan.
Ketika tahun 1999, kontestasi antara PPP dan PKB meruncing terkhusus di Kalimantan Selatan, dari arah sini muncul ejekan teruntuk Gus Dur, pasalnya melihat Situasi dan keadaan Gus Dur yang pada waktu itu memang, sudah tidak bisa melihat dan menjadi sasaran utama dengan sebutan buta.
Alangkah kecewanya dan marah Guru Sekumpul mendengar kabar tersebut, dan beliau langsung dawuh dihalayak umum kurang lebihnya seperti ini :
“Aku mandangarlah ada bubuhannya manyambati Gus Dur tu picak. Aku baritahu buhan ikam, jangan diulang lagi, Gus Dur itu ulama. Anak ulama. Dan cucu ulama. Kalo katulahan kaina”.
”(Aku mendengar banyak orang mengejek Gus Dur buta. Aku kasih tahu kalian, jangan dilakukan lagi, Gus Dur itu seorang ulama. Anak seorang ulama, cucu seorang ulama. Bisa kuwalat kalian nanti)”.
Semenjak waktu itu, sudah tidak ada yang berani, mengejek Gus Dur, dan takut atas tidak ridhonya Guru Sekumpul.
Hubungan Gus Dur dan Abah Guru Sekumpul wali abad 21
Guru Sekumpul & Gus Dur dua-duanya adalah tokoh penting dalam pondasi keagamaan secara kaffah atau secara pluralisme, meskipun faham dan ajarannya sama.
Guru Sekumpul merupakan tokoh yang menempuh pendidikan agama secara ketat dibawah nanungan guru-gurunya secara jelas, dengan moderasi tradisional, mengikuti ajaran para ulama’ terdahulu, lalu pada masanya beliau dipercaya oleh guru-gurunya untuk syiar mengajarkan dan sekaligus mengamalkan, awal mula dikampung keraton, akan tetapi dengan pembawaan beliau yang santun ditambah selipan pengibaratan humor yang tepat sasaran, banyak yang ingin belajar dengan beliau, kampung keraton tidak muat pindahlah ke kampung sekumpul, yang dimana nama kampung tersebut dinisbatkan kepada KH. M Zaini Abdul Ghoni.
Ajaran-ajaran beliau dari tasawuf, falsafah, fiqh keseharian, dan akhlak menjadi tuntunan banyak orang, sekaligus rutinan membaca maulid simtudduror, jelas ini menjadi satu hal yang memang perlu untuk di langgeng kan, fan keilmuan seseorang yang jelas sanadnya nyambung ila Rasulullah SAW.
Gus Dur memandang Guru Sekumpul adalah ulama yang mumpuni, maka menjadi salah satu mustaysyar dari sembilan orang menjadi simbol Nahdlatul Ulama, sedang Guru Sekumpul memandang Gus Dur sebagai ulama, yang jelas-jelas sebagai cucu KH. Hasyim As’ari sebagai tokoh pendiri NU.
Dimanakah kebertemuan Gus Dur dan Guru Sekumpul, yaitu dalam konsistensi dalam mengajak untuk berbuat baik, syiar tauhid dikalangan masyarakat indonesia yang beragam dan berbudaya, membawa agama islam dengan mode moderat, dan toleransi.