Kami sedoyosantri.com mengulik sedikit tulisan dari puthut ea, dalam pengajian umum yaitu ngaji kitab, swargi allahu yarham Simbah Maimoen Zubair ketika memberi muqodimah dan pembukaan tentang kealiman tokoh di balik kitab yang di kaji tersebut. Beliau Mbah Moen memberikan pertanyaan kepada Gus Baha’ yang saat itu juga hadir.
“Nek kowe karo aku pinter endi, Ha’?” (Mbah Moen)
Tentu saja ikatan guru dan santri antara “Mbah Maimoen dan Gus Baha” memiliki kedekatan yang mendalam dan istimewa, ketika kamu rajin mendengarkan pengajian Gus Baha di You Tube atau di Facebook tokoh alim yang selalu disebut tidak lain Gurunya yaitu Mbah Moen & Ayahnya KH Nur Salim.
Begitu mendengar pertanyaan tersebut Gus Baha’ sedikit tersenyum lalu menjawab spontan, “Pinter kula sekedhik, Mbah…” (Gus Baha’)
Jawaban dari Gus Baha’ membuat Mbah Maimoen tertawa. Demikian juga para hadirin, yang datang dalam majelis kitab tersebut. Kisah tersebut didapatkan puthut ea, dari seorang sahabat karibnya yang bertempat tinggal di Yogyakarta, yang rajin sowan ke dalem Mbah Moen.
Pertanyaan tersebut membuktikan kedekatan Mbah Moen dengan salah satu santrinya yang memiliki kealiman yang mendalam. Jika tidak diakui kealimannya, rasa-rasanya tidak mungkin Mbah Maimoen akan bertanya demikian kepada Gus Baha’.
Mengenai jawaban Gus Baha’ yang menggunakan Bahasa Jawa “pinter-kula-sekedhik” (Gus Baha’) bisa dipahami dengan dua pengertian.
Pengertian pertama, bermakna “kepintaran saya hanya sedikit”. Dalam makna ini, Gus Baha’ sedang menunjukkan sikap tawadhu’ kepada gurunya.
Pengertian kedua, frasa tersebut dapat dimaknai “pintar saya sedikit”. Jika dipahami demikian, Gus Baha’ sejatinya sedang bercanda (guyon) dengan gurunya. Adapun anggapan bahwa Gus Baha’ lebih pintar daripada Mbah Maimoen jelas bukan maksud dari guyonan tersebut, dan sama sekali tidak relevan dalam konteks adab keilmuan di pesantren.
Gus Baha’ sendiri beberapa kali dawuh bahwa salah satu ciri khas Mbah Maimoen adalah senang guyon, tanpa mengurangi wibawa dan kealiman beliau. Ayah Gus Baha’ KH. Nur Salim dikenal gemar bergurau. Maka tidak heran apabila Gus Baha’ juga tumbuh dengan tradisi guyon, yang tetap dijaga dalam bingkai adab, takdhim, dan tawadu’.
Pernah salah satu waktu, dalam sebuah majelis ilmu Gus Baha’ membahas, seorang kiayi yang bijak dalam memimpin tidak pernah membedakan antara santri pintar dan santri bodoh. Salah satu yang dimaksud tentu saja Mbah Maimoen.
Sudut pandang seperti itu juga diamini dan diyakini oleh Gus Baha’ sendiri. Itu bukan hanya perkara menghargai santri sebagai sesama makhluk Tuhan. Ada perkara lain…
Di pesantren, ada santri yang cepat menangkap pelajaran, hafalannya kuat, lisannya fasih, dan mudah menonjol. Santri seperti ini biasanya cepat dikenal, dekat dengan kiai, lalu pelan-pelan punya akses ke banyak hal: jaringan, ekonomi, bahkan politik. Dari sinilah sering lahir santri-santri yang karier hidupnya berujung di panggung publik—jadi tokoh, pejabat, atau setidaknya figur yang sering disebut-sebut.
Namun pesantren tidak hanya melahirkan santri-santri semacam itu.
Ada juga santri yang dianggap “bodoh”—atau lebih sopannya, santri kurang pintar. Ia tidak menonjol di kelas, tidak terkenal di pondok, dan nyaris tak punya akses ke apa pun selain kitab, jadwal ngaji, dan khidmah sehari-hari. Nama santri seperti ini jarang diingat. Bahkan kadang dilupakan.
Justru santri jenis inilah yang, setelah selesai mondok, memilih pulang ke kampung atau menetap di kampung lain. Tidak membawa nama besar, tidak membawa jaringan luas, hanya membawa bekal seadanya: ilmu yang ia ngalap bertahun-tahun, adab yang ia pelajari pelan-pelan,
Tentu saja, ini bukan soal menentukan mana jalan yang benar dan mana yang keliru bagi seorang santri. Setiap santri berjalan di jalannya masing-masing. Justru di sini tampak betapa jauhnya pandangan para kiai—termasuk almarhum Mbah Maimoen dan Gus Baha’. Pada titik inilah kita belajar bahwa guna sosial seseorang sesungguhnya tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat intelektualitasnya. Ilmu tidak selalu bekerja di tempat yang gemerlap; sering kali ia justru menemukan maknanya di ruang-ruang sunyi, di tengah masyarakat kecil, dalam bentuk khidmah yang nyaris tak terdengar.
Tentunya orang di dunia ini, pasti memiliki kelwbihan dan kekurangan ada pula yang pikirannya pas-pasan, tidak elok jika kita memberikan predikat di setiap orang entah pintar maupun bodoh, akan tetapi laku mereka luhur menebar manfaat kepada sesama, mengayomi kiri dan kanan, menyebar hal-hal berguna, terlebih kita tidak menahu jika disetiap malamnya bahkan mendoakan kita.
Alfatihah untuk Allahuyarham KH Maimoen Zubair….



