Reminder untuk kita semua yang udah dewasa tapi belum tahu keindahan makna tersirat dari umul Qur’an surah yang kita baca berkali-kali dalam sehari semalam.
Mari kita bahas kali ini tentang rasa galau yang kita alami kegundahan pada waktu-waktu tertentu dimana kita melafalkan Al-Fatihah berkali-kali, tapi hati tetap terasa hambar, tidak merasakan nikmatnya, hadir dalam sholat, hanya sebatas mengugurkan kewajiban.
Bukan berarti kita lupa bacaannya, justru hafal wolak walik (lancar) kemungkinsn kita lupa meresapi maknanya.
Usia kita terus bertambah, lidah yang kaku makin lancar mengucap, tapi rasa di hati entah ke mana perginya, Pernah nggak, kamu ngalamin begitu juga?
Perlu kita sadari. Sholat itu bukan sekadar bacaan yang lancar, tapi kehadiran fikiran dan hati kita yang nyata. Bukan hanya sekadar rutinitas, tapi ungkapan kata dan tindakan betapa kita benar-benar ‘membutuhkan’-Nya. Memohon ‘pertolongan’-Nya.
Renungkan dengan sungguh-sungguh. Lalu timbul pertanyaan baru.
A. Apakah kita sholat hanya karena terbiasa, atau karena benar-benar merasa butuh kepada-Nya?
B. Pernah nggak, kita merasa sudah sering membaca Al-Fatihah tapi hati tetap terasa hampa?
C. Apakah kita datang kepada Allah karena kewajiban, atau karena kerinduan dan kebutuhan?
D. Apakah kita lebih sibuk menghafal bacaan daripada meresapi maknanya?
Itu semua perlu kamu jawab sendiri, karena kami juga sedang memulai merefleksi diri sendiri.
Dari beberapa pertanyaan diatas keluar judul baru namanya sholat.
Rasulullah dawuh :
الصلاة عماد الدين، فمن أقامها فقد أقام الدين ومن تركها فقد هدم الدين.
“Shalat adalah tiang agama. bagi siapa yang telah mendirikan shalat, maka dia telah mendirikan agama, namun bagi siapa saja yang meninggalkan shalat berarti dia telah menghancurkan agama.”
Logika berpikir seseorang bukan dari seberapa banyaknya rokaat sunah atau wajib yang kita laksanakan, namun di dalam sholat ada firman Allah yang diturunkan untuk kita semua untuk mengenal tuhan-Nya.
Al-Fatihah bukan hasil ciptaan manusia, bukan juga ciptaan mahluk, tapi kalam Allah yang dizinkan untuk mengalir dari lisan kita. Tidak cukup untuk kita kuasai tapi untuk menuntun langkah kita, langkah manusia yang penuh lika-liku, agar tahu arah jalan pulang
Sudahkah kita membiarkan kalam-Nya menuntun hati kita, bukan hanya lewat bibir kita?
Sudahkah kalam-Nya menerangi kehidupan kita, untuk memilih jalan yang lurus?
Jawabannya Al-Fatihah adalah lentera kehidupan manusia, cahaya kehidupan, untuk menerangi langkah-langkah kita dan sebuah batu pijakan.
Bismillah: Aku mulai, tapi tidak sendiri.
Alhamdulillah: Aku belajar mengakui, segalanya bukan milikku.
Ayat demi ayat, seolah Tuhan menyalakan kata-kata untuk kita, karena kita sering kehilangan bahasa untuk menyapa-Nya, kehilangan kosa kata untuk memuji-Nya.
Sholat bukanlah kita bicara ke langit, tapi langit yang menyalakan cahaya agar kita melihat Diri kita yang sejati.
Dari sinilah kita akan menemukan konsep “titik dialog” dalam lafadz Alfatihah ayat ke-5, yang membuktikan kita ini butuh sholat, membutuhkan uluran tangan, membutuhkan pertolongan, dan disinilah sebenar-benarnya kita memohon.
“Iyyāka Na’budu…الخ
Di ayat kelima, kita berhenti: “Hanya kepada-Mu kami menyembah. Hanya kepada-Mu kami memohon.”
Ijazah : Amalkan ayat ini, dibaca sebelas kali ketika membaca Al-Fatihah dalam sholat hajat
Di sini lidah kita berhenti, tapi hati kita mulia berbicara.
Bukan lagi sekadar lafadz, melainkan pengakuan yang menanggalkan topeng-antara aku yang dibuat-buat dan aku yang sebenarnya, karena kita semua hanyalah seonggok tulang yang dibalut kulit.
Pada titik ini, aku berdiri tanpa jarak di hadapan-Mu. Yang ada hanya satu arus kehendak, satu sumber kehidupan, satu arah pulang, satu kekuatan.
Aku berbeda dari-Mu, tapi tak terpisah. Aku terpisah, tapi tak berbeda.
Seperti kendi yang kosong kita hadir, agar bisa diisi.
Bukan dengan keinginan, tapi dengan keikhlasan.
Al-Fatihah juga punya sebutan lain yaitu Sab’ul Matsani yang artinya Tujuh ayat yang diulang-ulang.
Bukan karena Tuhan kehabisan kata, tapi karena manusia mudah kehilangan arah. Dalam dzikir, kita mengingat.
Tapi dalam Al-Fatihah, kita diingatkan. Al-Fatihah bukan hanya bacaan – tapi detak : detak spiritual yang terus menyambungkan kita kepada-Nya, bahkan saat kita jauh, saat lupa dan sedang sibuk-sibuknya kerja.
Setiap “Bismillah” adalah panggilan pulang
Setiap “Ihdina shirath al-mustaqim” adalah koreksi arah
SAAT SHOLAT KEHILANGAN RUHNYA
Kita bisa saja sholat, tapi kehilangan makna. Seperti membaca surat cinta yang tak kita pahami. Al-Fatihah bisa menjadi rutinitas yang tak menyentuh bukan karena salah isinya, tapi karena kita lupa untuk mendengarnya.
Maka bukan sholat yang salah, tapi diriku yang lupa bahwa ini undangan bukan kewajiban.
MENANAM AL-FATIHAH DI DALAM DIRI SENDIRI
Al-Fatihah tak perlu dijelaskan panjang-panjang, ia perlu ditanam – di dalam diri.
Bismillah: aku mulai hari ini, bukan demi hasil, tapi demi Dia.
Ar-Rahman Ar-Rahim: aku belajar menyayangi, bahkan dengan yang melukai.
lyyāka na’budu: aku belajar ikhlas, walau belum paham secara utuh.
Karena dalam sholat, aku tak sedang menunjukkan kesalehan, tapi sedang minta dituntun kembali ke rumah terdalam sumber kebenaran.
AL-FATIНАН MESIN SUNYI TRANSFORMASI
la itu seperti air bening, tak berwarna tapi menyuburkan segalanya. la dibaca setiap hari – bukan untuk dihafal, tapi untuk mentransformasi jiwa.
la seperti ritme detak jantung: tujuh ayatnya membawa kita kembali, lagi dan lagi. la diulang – bukan karena tak paham, tapi karena kita terus butuh disucikan.
Jika shalat adalah tempat bertemu, Al-Fatihah adalah bahasa pertemuannya.
Al-Fatihah yang hidup, bukan yang terdengar fasih di mulut, tapi yang membuatmu hadir di hadapan Tuhan -bahkan tanpa suara.
Sab’ul Matsani bukan hanya tujuh baris suci, ia adalah getar jiwa yang menyambungkanmu dengan Keabadian.
Jadi, sudahkah kamu benar-benar membaca atau sekadar melewati?
Nanti, saat kamu baca Al-Fatihah, jangan buru-buru ke ruku’ ya freen.
Diam dulu, dengarkan. Karena itu bukan kata-katamu – itu kata-kata Tuhan yang sedang Dia ajarkan padamu.
Bertanya dengan nada lembut (terhadap diri sendiri): “Siapa yang sedang aku sembah hari ini?”
Dan bisikkan pada jiwamu:
“Jadikan sholatku bukan sebagai bukti bahwa aku suci, tapi sebagai jalan untuk kembali mengenal-Mu yang sejati.”



Terimakasih atas Ilmunya
Alfatihah…
Alfatihah…