jangan jadi santri kemlewo

“Jadi Santri itu jangan kemlewo.” pesan yang begitu kuat ter-untuk santri di indonesia, dalam menebar manfaat dan perjuangan kemasyarakatan, dawuh ini disampaikan langsung oleh Bapak M Zuhdi Abbas dalam laman media facebook.

‘Kemlewo’ kata yang memiliki makna universal namun jelas kuat sebagai pesan untuk mutakhorijin, terlebih yang tidak mau atau bahkan meninggalkan kewajiban santri, ketika sudah muqim dirumah, sedang kemlewo yang dimaksud disini itu pura-pura gak bisa atau sungkan – sungkanan, biasanya terjadi karena merasa belum pantas.

Hal ini terjadi begitu saja, karena saking seringnya di pesantren di ajari tawadlu’ dan andap ashor, ini tentu betul sangat disayangkan, mondoknya lama, terlebih harus menghafalkan syair atau bahkan bait-bait alfiyah, maknun, dlsbgnya. Namun dirumah karena ketungkul gawean (tenggelam dalam pekerjaan ) demi mencukupi kebutuhan rumah atau sekedar mencari uang untuk menyambung rokok, rela melupakan dan meninggalkan wadzifah dari ulama dan kyainya.

Tawadlu’ adalah sifat terpuji. Contohnya jika ada orang yang lebih Alim, apalagi lebih sepuh, maka seyogyanya sebagai Santri lebih baik mundur dulu, dan mendahulukan orang yang lebih alim, tadi yang jadi Imam atau memimpin acara.

Akan tetapi jikalau kita tau di lapisan masyarakat situ masih pada awam dan banyak juga yang masih abangan atau belum tercerahkan secara  pengetahuan agamanya, masih minim ya Santri itu harus mau dan berani terjun untuk ngaji, ngajar dan ngimami.

M Zuhdi Abas menuturkan Waktu itu sekitar pukul enam petang. Kumandang azan Magrib menggema. Beliau berdua—Gus Qoyyum dan Mbah Humaidi—berhenti di sebuah masjid untuk menunaikan salat.

Karena sama-sama tawadlu’, tak satu pun berkenan menjadi imam; keduanya justru saling mempersilakan agar menjadi makmum.
Tak lama kemudian, ada seorang masuk masjid hendak salat. Melihat itu, Gus Qoyyum pun menawarinya dengan santun,
“Panjenengan kersa dados imam?”
Tanpa banyak bicara, orang itu langsung menjawab,
“Nggih, monggo.”

Salat pun dimulai. Namun kejanggalan terjadi pada rakaat kedua. Imam tersebut duduk tawarruk—tanda hendak salam. Dan benar saja, ia benar-benar salam di rakaat kedua.
Melihat itu, Gus Qoyyum dan Mbah Humaidi spontan tertawa bersama 😁😃😂.


Sang imam menoleh ke belakang lalu bertanya dengan polos,
“Menopo sholat kulo wonten ingkang lepat, Kiai?”
(Mungkin ia sadar bahwa makmumnya adalah para kiai.)

Dengan santai ia lalu menambahkan,
“Nyuwun sewu, kulo niki musafir. Dados sholat Magrib kulo qoshor, kalih rakaat.”

Setelah kejadian itu, Beliau sudah gak mau nawarin lagi ke orang lain untuk jadi Imam, kalau Beliau gak kenal 😁

Intine, Santri iku kudu ngerti lan faham situasi setidaknya belajar “ngepaske panggonan” atau bahasa gampangnya tahu bagaimana cara menempatkan diri, tidak hanya melulu soal ngaji saja, namun faham menempatkan diri sendiri ditengah-tengah masyarakat yang memiliki pelbagi perangai.

Semoga kita semua santri khususnya, mampu meneruskan estafet perjuangan poro yai dan ulama, walaupun sekedar mulang turutan dan juz ‘ama.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *